(Foto: Ilustrasi)
Berita Bijak – Jenewa. Harapan publik internasional untuk melihat redanya tensi di Timur Tengah kembali menemui jalan terjal. Perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait program nuklir Teheran resmi berakhir di Jenewa pada Kamis tanpa membuahkan kesepakatan konkret. Situasi ini pun memicu kekhawatiran baru akan potensi eskalasi militer, mengingat kehadiran armada tempur masif Amerika yang masih bersiaga di kawasan tersebut.
Meskipun meja perundingan ditutup tanpa dokumen kesepakatan, sinyal optimisme justru datang dari pihak mediator. Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, mengeklaim bahwa pertemuan tersebut sebenarnya membuahkan hasil di balik layar.
”Telah ada kemajuan signifikan dalam negosiasi,” ujar Al-Busaidi singkat, meski ia enggan merinci poin-poin kemajuan yang dimaksud.
Namun, klaim kemajuan tersebut tampak kontras dengan laporan media pemerintah Iran. Sesaat sebelum pertemuan berakhir, Teheran secara terbuka menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pengayaan uranium. Mereka menolak keras usulan transfer material nuklir ke luar negeri dan bersikeras menuntut pencabutan total sanksi internasional—sebuah pesan jelas bahwa mereka tidak akan tunduk pada garis politik Presiden AS, Donald Trump.
Di sisi lain, Washington melihat tekanan ekonomi dalam negeri Iran sebagai celah untuk membatasi ambisi nuklir negara tersebut. Namun, Iran tetap pada posisinya: mereka ingin menghindari perang, tetapi enggan merundingkan isu sensitif lainnya seperti pengembangan rudal jarak jauh maupun dukungan terhadap kelompok bersenjata seperti Hamas dan Hizbullah.
Babak Baru di Wina Intensitas perundingan kali ini pun diakui sebagai salah satu yang paling menguras energi. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam sebuah wawancara televisi menggambarkan dialog tersebut sebagai momen yang sangat krusial.
”Apa yang perlu terjadi telah dijelaskan dengan jelas dari pihak kami,” kata Araghchi tanpa memberikan detail teknis lebih lanjut.
Meski Gedung Putih masih memilih bungkam, secercah harapan diplomasi masih tersisa. Al-Busaidi mengonfirmasi bahwa pembicaraan teknis di tingkat perwakilan rendah akan berlanjut pekan depan di Wina. Lokasi ini dipilih karena merupakan markas Badan Energi Atom Internasional (IAEA), lembaga pengawas atom PBB yang diprediksi akan menjadi kunci dalam setiap kesepakatan yang mungkin tercapai di masa depan.(bb)
+ There are no comments
Add yours