BERITA BIJAK – ARTIKEL. Di era digital yang serba transparan ini, batas antara ruang privat dan publik kian lebur. Teknologi memberikan manusia daya pengamatan yang luar biasa—memungkinkan gelombang suara, ketikan jemari, hingga percakapan paling rahasia ditarik, direkam, dan disimpan dalam peladen tak kasat mata. Namun, sebuah ironi yang menggelisahkan lahir ketika instrumen pemantauan ini jatuh ke tangan yang salah: ketika seorang tukang sadap mulai merasa berhak bertindak selayaknya Tuhan.
Secara harfiah maupun metaforis, “menyadap” adalah tindakan mencuri dengar. Ia adalah upaya manusia menembus dinding privasi orang lain, merangsek masuk ke wilayah yang seharusnya disucikan oleh hak asasi pribadi. Masalahnya, ketika seseorang diberi kuasa—atau mengambil kuasa secara ilegal—untuk memegang kendali atas informasi rahasia, sering kali ada ilusi kekuasaan yang meracuni nalar. Mereka mulai tahu siapa yang berbohong, siapa yang jatuh, siapa yang bersekutu, dan siapa yang merencanakan masa depan.
Dari titik inilah delusi ke-Tuhanan bermula.
Ketika seseorang merasa mengetahui segalanya (omniscient) melalui tumpukan transkrip sadapan dan rekaman digital, ia kerap lupa bahwa dirinya tetaplah makhluk fana yang rapuh. Kekuasaan mutlak atas data memabukkan. Mereka mulai merasa bisa menghakimi, mengatur skenario hidup orang lain, menentukan siapa yang layak dijatuhkan, dan siapa yang pantas diselamatkan.
Mereka lupa bahwa mengintip isi kepala dan percakapan sesama manusia tidak lantas meninggikan derajat seseorang menjadi Sang Pencipta. Itu hanya mengubah status mereka menjadi pengintai gelap yang mencederai martabat kemanusiaan.
Sejarah peradaban telah berulang kali memperingatkan kita: setiap kali manusia mencoba mengenakan jubah Tuhan—merasa paling tahu, paling berkuasa, dan paling berhak atas nasib orang lain—kehancuran moral tinggal menunggu waktu. Kekuasaan atas informasi bukanlah lisensi untuk bertindak sewenang-wenang. Negara hukum didirikan untuk membatasi syahwat kekuasaan semacam ini, bukan untuk membiarkannya tumbuh subur di balik layar monitor dan perangkat penyadap.
Sudah saatnya kita bersikap tegas. Privasi bukanlah komoditas yang bisa diperjualbelikan atau diawasi secara semena-mena oleh mereka yang haus kontrol. Penegakan hukum yang tanpa kompromi harus diberlakukan terhadap siapa pun yang mencoba memperalat teknologi pemantauan demi kepentingan oligarki, politik, maupun pribadi.
Sebab, jika kita membiarkan para “tukang sadap” ini terus berkhayal menjadi penguasa tak bertakhta yang menentukan hidup-mati reputasi orang lain, maka kita sedang membiarkan demokrasi dan kebebasan sipil mati di tiang ganjaran tirani digital. Manusia diciptakan untuk saling menghormati batas, bukan untuk saling mengintai lalu berlagak menjadi tuhan atas hidup sesamanya.
+ There are no comments
Add yours