BERITA BIJAK – EKONOMI. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tren penurunan berturut-turut pada pekan akhir Oktober 2026. Berdasarkan data Bank Indonesia, Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat pelemahan signifikan hingga menyentuh angka Rp18.183 per dolar AS.
Faktor Pendorong Pelemahan
Para pengamat dan analis mata uang mencatat beberapa faktor utama yang menekan pergerakan mata uang Garuda:
- Sentimen Geopolitik & Harga Minyak Dunia: Kekhawatiran atas eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak mentah global di atas level US$100 per barel. Hal ini meningkatkan kekhawatiran terhadap beban impor energi nasional.
- Kebijakan Suku Bunga AS: Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve / The Fed) yang menahan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00% turut menahan keperkasaan dolar AS di pasar global.
- Aliran Capital Outflow: Dari dalam negeri, aksi lepas aset atau capital outflow modal asing di pasar saham domestik turut memperberat pergerakan rupiah.
Langkah Respon Bank Indonesia
Menanggapi tekanan nilai tukar ini, pihak Bank Indonesia (BI) menegaskan terus berada di pasar untuk melakukan intervensi guna menstabilkan volatilitas pergerakan rupiah sesuai mekanisme supply and demand.
+ There are no comments
Add yours